Orpheus, raja Thrace, adalah putra Apollo, dewa terang, dengan Calliope,
dewi musik dan puisi. Di zamannya tak ada orang yang dicintai oleh
semua makhluk lebih daripada Orpheus. Sebab selain tampan dan berbudi
luhur, Orpheus merupakan pemusik yang handal. Apabila jari-jarinya yang
terampil telah diayunkan pada dawai-dawai liranya dan suaranya yang
merdu bersenandung, tak satupun yang tidak terpesona dibuatnya. Bahkan
hewan-hewan buas akan berbaring berdampingan dengan mangsanya dan
pepohonan seolah tercabut dari akarnya untuk mendengarkan permainan lira
dan suara Orpheus yang memikat.
Suatu hari, ketika sedang
berjalan-jalan dalam hutan, Orpheus berjumpa dengan Eurydice, seorang
peri hutan yang jelita. Mereka berdua saling terpesona dan jatuh cinta.
Hati Orpheus tertawan oleh sinar mata Eurydice yang lembut dan gerai
rambut hitamnya yang lincah berayun, sedangkan Eurydice terpesona oleh
sosok Orpheus yang gagah.
Mereka kemudian mengikrarkan diri untuk
menjadi pasangan yang abadi. Sungguh pasangan yang serasi. Sebab selain
kejelitaan Eurydice sebanding dengan ketampanan Orpheus, hanya
Eurydicelah yang mampu menari dengan indahnya diiringi permainan musik
Orpheus. Berdua mereka hidup dalam kebahagiaan yang berakar pada cinta
sejati yang telah dianugerahkan dan mereka pelihara bersama.
Sayang
sekali kebahagiaan mereka tidaklah sekekal cinta mereka. Dewi-dewi
Takdir yang keras hati telah memutuskan riwayat Eurydice harus berakhir
sampai di sini saja.
Pada suatu hari, sebagaimana layaknya
pasangan-pasangan yang saling mencintai lainnya, mereka melewatkan waktu
berdua saja, berjalan-jalan menikmati keindahan pemandangan alam di
Lembah Tempe. Bunga-bunga liar semarak bermekaran mengundang kupu-kupu
beraneka warna untuk singgah mencicipi madu mereka. Dari jauh tampak
puncak Olympus yang berselimut salju berdampingan dengan puncak Gunung
Osa, sementara di antara keduanya mengalir dengan tenang air Sungai
Peneus yang berkilau ditimpa sinar sang surya.
Menyaksikan
pemandangan yang indah tak terperi tersebut, Orpheus segera memetik
dawai-dawai liranya dan bernyanyi memuji keindahan alam diiringi celoteh
riang burung-burung yang berloncatan di antara dahan-dahan pepohonan
sycamore yang tumbuh di sana, sementara Eurydice menari dengan
gemulainya.
Tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seekor ular yang
menancapkan taring-taringnya yang berbisa pada pergelangan kaki
Eurydice. Eurydice menjerit pelan sebelum kemudian roboh dalam pelukan
Orpheus yang segera menyongsongnya menyaksikan kejadian tersebut. Tapi
terlambat! Eurydice telah menghembuskan nafasnya yang terakhir, bahkan
sebelum Orpheus sempat menanyakan keadaannya. Sementara ular berbisa
tersebut telah lenyap entah ke mana seolah tak peduli betapa kebahagiaan
sepasang anak manusia telah dihancurkannya.
Dunia seakan kiamat bagi
Orpheus. Hari-hari dan mimpi malamnya dihantui oleh bayangan Eurydice
yang seolah mengajaknya melanjutkan nyanyian dan tarian yang tak sempat
terselesaikan di lembah tersebut.
Akhirnya timbul tekad yang sungguh
berani dalam diri Orpheus. Dia memutuskan pergi ke Hades, kerajaan
orang-orang mati, untuk menjemput kembali jiwa Eurydice.
Orpheus
memang bukan pahlawan seperti Hercules yang sanggup menyelesaikan dua
belas tugas raksasa. Bukan pula Theseus yang membunuh Minotaur, makhluk
setengah manusia setengah banteng yang memangsa rakyatnya. Dia juga
bukan Jason yang memimpin para pahlawan mengambil bulu domba emas di
Colchis. Namun cintanya yang besar pada Eurydice dan derita berat yang
harus ditanggung karena kehilangan dirinya telah memberi Orpheus
keberanian dan kekuatan seluruh pahlawan.
Banyak orang berusaha membujuk agar dia mengurungkan niatnya.
"Jangan pergi Orpheus! Ingatlah kekerasan hati Pluto penguasa Hades dan Hakim-hakim di Hades yang keputusannya tak terubahkan!"
"Memang menyakitkan kehilangan orang yang kita kasihi. Tetapi waktu jualah yang akan menyembuhkan luka di hatimu."
Namun
Orpheus tetap tak bergeming dari niatnya. Keputusannya sudah bulat. Dia
pergi meninggalkan kerajaannya untuk menuju ke Hades.
Baru saja
kakinya melangkah masuk ke dalam kegelapan gua di kaki Gunung Avernus
yang berhubungan dengan Hades ketika seseorang menepuk pundaknya.
Ternyata orang tersebut adalah Mercury, duta dewata yang bertugas
mengantar jiwa-jiwa menuju ke Hades. Seperti yang lain, Mercury juga
membujuk Orpheus membatalkan niatnya.
"Kukagumi keberanianmu mencoba
melakukan hal yang bahkan membuat pahlawan seperkasa Hercules pun
berpikir dua kali sebelum bertindak, Orpheus. Namun tidakkah kau tahu
bahwa kau mencoba meraih yang tak teraih, mengharapkan sesuatu yang
mustahil? Tidak tahukah kau bahwa Pluto penguasa Hades buta terhadap
penderitaan manusia dan tuli terhadap isak tangis mereka? Hanya
kekecewaanlah yang akan menantikan di penghujung perjalananmu Orpheus,
karena itu urungkanlah niatmu! Mari kuantar kau kembali ke atas sana."
Tetapi keteguhan hati Orpheus tak tergoyahkan.
"Antarkan
aku menghadap Pluto penguasa Hades!" adalah jawaban Orpheus kepada
Mercury. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Mercury berdiam diri
sejenak sebelum kemudian maju memimpin langkah-langkah Orpheus menuju
Hades.
Akhirnya setelah berjam-jam menembus kesenyapan dan kegelapan
di sekeliling mereka, tibalah mereka di tepian Sungai Styx, sungai suci
yang harus diseberangi para jiwa agar sampai di Hades. Terdengar bunyi
gemercik air yang jatuh di atas bebatuan.
Dari jauh tampak sosok
kurus Charon, dewa yang bertugas menyeberangkan jiwa-jiwa, menepikan
perahunya. Mulanya dia menolak menyeberangkan Orpheus karena Orpheus
adalah makhluk hidup yang tidak boleh masuk ke dalam kegelapan Hades.
"Tidak
tahukah bahwa aku hanya membawa jiwa-jiwa saja menyeberangi sungai ini
dengan perahuku? Kau makhluk fana yang berdaging dan berdarah pulanglah!
Tunggulah giliranmu mati untuk kuseberangkan ke sana!"
Orpheus hanya terdiam, kemudian disapukannya jari-jarinya pada dawai-dawai liranya.
Ting-a ling-a-ling! Suara yang demikian jernih bergema di kesunyian Hades.
Mata Charon terbelalak takjub mendengarkan nada-nada mempesona yang belum pernah didengarnya sebelumnya.
"Suara apa ini?" tanyanya.
Orpheus melangkahkan kakinya dengan mantap menaiki perahu sambil terus memainkan liranya diikuti oleh Mercury.
Charon
terus mendengarkan nada-nada indah yang mempesonakan dirinya, sehingga
kemudian tanpa disadarinya direngkuhnya dayung. Dan perahu tersebut
meluncur di atas permukaan sungai suci yang tenang tersebut sampai ke
seberang, di depan gerbang Hades.
Hal yang sama terjadi pada
Cerberus. Anjing penjaga gerbang Hades, yang termashyur karena
kegarangannya terhadap makhluk yang mencoba memasuki atau jiwa-jiwa yang
berusaha keluar dari Hades, tersebut demikian terbuai oleh musik
Orpheus sehingga mengizinkannya lewat.
Di Hades Orpheus menjumpai
pemandangan yang suram tak menyenangkan. Tampak olehnya jiwa-jiwa
berbaris menunggu keputusan dijatuhkan oleh Justitia, dewi keadilan, dan
Hakim-hakim Hades bagi mereka apakah mereka harus melanjutkan hidup di
Tartarus (neraka) atau di Padang Elysium (surga) sesuai dengan perbuatan
mereka semasa hidup.
Duduk di atas tahta Hades yang bertatahkan
batu-batu mulia Pluto, penguasa Hades yang keras hati, dewa yang
ditakuti setiap makhluk hidup. Di sampingnya duduk Proserpine, ratu
Hades sendiri. Di sekeliling mereka berdirilah 3 Fury atau Eumenides:
Tisiphone, Megaera, dan Alecto, yaitu dewi-dewi pembalasan yang bertugas
menghukum jiwa-jiwa yang semasa hidupnya berbuat jahat.
Wajah Pluto yang sudah menakutkan tersebut tampak lebih seram ketika dilihatnya Mercury datang beserta Orpheus.
"Mercury,
siapakah makhluk kurang ajar ini yang merasa dunia berada dalam
genggaman tangannya sehingga tanpa menyayangkan hidupnya sendiri berani
datang kemari, ke kerajaan orang-orang matiku?" geram Pluto kepada
Mercury.
Segera Orpheus menjelaskan siapa dirinya dan maksud kedatangannya.
"Penguasa Hades yang agung, aku Orpheus, putra Apollo dari Calliope, datang kemari untuk menjemput jiwa istriku."
"Istrimu?"
"Peri
hutan Eurydice. Kami hidup berbahagia di atas sana sampai pada hari
saat takdir kejam merenggutnya dari sisiku. Kini aku memohon kemurahan
hatimu agar bersedia mengembalikan jiwa Eurydice pada kehidupan. Sebab
kurasakan terlalu singkat kebahagiaan yang telah kami nikmati, terlampau
pendek hari-hari yang telah kami jalani bersama."
"Lancang!
Kesombongan macam apa yang kau pertontonkan di hadapanku ini? Tak
tahukah kau bahkan Jupiter, penguasa semesta, sendiri enggan untuk
meminta padaku mengembalikan jiwa orang yang telah mati kembali pada
kehidupan? Dan kau! Atas nama siapa yang telah membuatmu berani
mengajukan permohonan yang mustahil ini?"
"Atas nama Cinta yang telah
melahirkan kehidupan, yang kuasanya mencakupi seluruh makhluk dan
mengatasi kita semua, bahkan para dewa-dewi. Atas namanyalah aku datang
kemari dan berdiri memohon di hadapanmu."
"Cinta!" ujar Pluto dingin,
"untuk apa kaubawa-bawa Cinta dalam hal ini? Apa urusannya Cinta dengan
orang-orang mati? Terangkan padaku, Orpheus, apa arti Cinta!"
"Penguasa
Hades yang agung, sungguh aku tak pernah berkehendak mengguruimu
tentang makna Cinta, tetapi dengarlah apa arti cintaku pada Eurydice!
Panjang jarak yang harus kutempuh kemari, bukannya sedikit bahaya yang
menghadang di perjalananku, Sungai Styx telah kuseberangi, dan Cerberus
kuhadapi. Segala derita kutanggung dan susah payah kuabaikan hanya
dengan harapan agar Eurydice boleh kembali ke sisiku. Dialah belahan
jiwaku dan pangkal kebahagiaan hidupku. Jika ini tak layak disebut
Cinta, maka aku tak tahu lagi apa yang dimaksud dengan Cinta."
Orpheus
menyampaikan semua hal tersebut dalam nyanyian diiringi petikan
dawai-dawai liranya. Dalam sekejap semua makhluk di Hades terdiam. Tak
ada satupun yang bersuara. Semuanya seakan terbius oleh permainan lira
Orpheus dan suaranya yang mengalun merdu.
Pluto sendiri, yang
telinganya terbiasa oleh ratapan jiwa-jiwa yang menangisi orang-orang
yang mereka tinggalkan, tersentuh hatinya oleh nyanyian Orpheus.
Terlebih-lebih bagi Proserpine yang juga merupakan dewi musim semi.
Nyanyian tersebut menembus jiwanya. Teringat olehnya hari-hari
bahagianya di atas sana sebelum diperistri Pluto. Teringat olehnya akan
hangatnya sinar matahari, akan kicau burung yang merdu, gemercik air
sungai yang sebening kristal dalam perjalanannya menuju ke hilir, dan
akan pasangan-pasangan kekasih yang berlarian di padang bunga yang
bermandikan cahaya matahari yang keemasan, sehingga tanpa disadari air
matanya telah berderai membasahi pipinya.
"Orpheus, oh, Orpheus! Kasih!" tiba-tiba terdengar satu suara menyeruak keheningan di antara yang hadir.
Nyanyian
Orpheus terhenti. Dari barisan para jiwa muncullah Eurydice yang segera
berlari mendapatkan kekasihnya. Orpheus berusaha merengkuh bayangan
Eurydice dalam pelukannya. Namun karena sebagai jiwa, Eurydice tak dapat
disentuh makhluk hidup, akhirnya mereka hanya dapat saling memandang ke
dalam mata mereka yang penuh kerinduan akan satu sama lain.
Semua
yang hadir terkejut campur cemas menyaksikan hukum yang telah digariskan
dewata dilanggar. Yang mati bersatu dengan yang hidup. Tak ada yang
dapat membayangkan kemurkaan Pluto penguasa Hades dan hukuman yang akan
dijatuhkannya. Mercury buru-buru, memisahkan Eurydice dari Orpheus.
Pluto
penguasa Hades terdiam menyaksikan adegan tersebut. Namun hanya
sekejap. Ketika dilihatnya air mata mengalir di wajah Proserpine,
hatinya yang keras pun melunak. Dia bangkit dari tahtanya dan dengan
suara berat bersumpah akan mengabulkan apapun permohonan Orpheus.
"Demi
air Sungai Styx yang mengalir di kerajaan ini, katakan kepadaku apa
yang kau kehendaki, dan aku akan memberikannya kepadamu!"
Orpheus memohon agar jiwa Eurydice boleh kembali bersamanya ke dunia untuk melanjutkan hari-hari bahagia mereka.
"Penguasa
Hades yang agung, semoga kau mengizinkan Eurydice kembali bersamaku ke
atas sana melanjutkan hari-hari penuh cinta kami. Tak kuasa aku
membayangkan dia harus berada di tempat ini tanpa diriku atau aku di
atas sana tanpa dirinya. Biarkan dia kembali agar aku boleh menghayati
lagi kebahagiaan yang ditimbulkan oleh cintanya dan dia oleh cintaku.
Bila hal ini tidaklah mungkin, semoga engkau berbelas kasih mengizinkan
aku tinggal di sini di sisinya."
"Biarlah terjadi seperti kehendakmu
Orpheus. Tetapi sebagaimana aku menepati sumpahku, kau juga harus
berjanji padaku untuk memenuhi syarat yang kuberikan," kata Pluto.
"Katakan saja, Penguasa Hades yang agung! Bersama Eurydice di sampingku, tak ada syarat yang terlalu berat untuk kujalani ."
Kemudian
Pluto bersabda, "Biarlah jiwa Eurydice berjalan mengikutimu kembali ke
dunia atas sana. Namun pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya,
selama kau berada dalam kegelapan Hades. Jika syarat ini kau langgar,
maka Eurydice akan kembali berada di sini, di antara jiwa-jiwa yang
lain, saat itu juga."
Orpheus menyanggupi syarat yang tampaknya ringan tersebut. Kemudian pasangan kekasih tersebut meninggalkan Hades.
Gerbang
Hades yang dijaga Cerberus telah mereka lewati, demikian pula Sungai
Styx telah mereka seberangi. Sejauh itu Orpheus sanggup menahan diri
untuk tidak menengok ke belakang.
Namun semakin jauh mereka
meninggalkan kegelapan di belakang, semakin gelisahlah hati Orpheus
diusik keragu-raguan. Apakah jiwa Eurydice mengikutinya? Apakah raungan
Cerberus tidak membuat gentar jiwa Eurydice melangkah keluar dari
gerbang Hades? Apakah Charon tidak menolak menyeberangkan jiwa Eurydice?
Oh dewa! Kalau saja dia boleh yakin bahwa Eurydice ada bersamanya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengusik batin Orpheus. Semakin jauh langkahnya menuju terang, semakin gelaplah pikirannya.
Akhirnya,
tak tahan oleh keragu-raguan yang mengusik hatinya, Orpheus melanggar
syarat yang diberikan oleh penguasa Hades. Dia menoleh ke belakang untuk
melihat jiwa Eurydice.
"…pantang bagimu menengok ke belakang, ke arahnya, selama kau berada dalam kegelapan Hades...."
Maka…
"Orpheus,
ah, Orpheus! Ketidaksabaranmukah? Keragu-raguanmukah? Atau takdir
kejamkah yang mengkhianati cinta kita dan membuatmu melanggar syarat
yang telah diberikan padamu atas kesempatan bagi kita untuk bersatu
kembali? Kuulurkan tanganku padamu namun kutahu aku tak mungkin lagi
menjadi milikmu di dunia atas sana?" desah jiwa Eurydice memilukan.
Dan
Orpheus melihat bayangan Eurydice memudar dalam kegelapan Hades.
Sia-sia lengannya terulur mencoba menggapai jiwa Eurydice. Bayangan
Eurydice telah sirna.
Dia berlari kembali mencoba mengejarnya. Sampai
di tepian Sungai Styx dia memohon dengan ratapan pada Charon agar
bersedia menyeberangkannya. Namun kesempatan kedua tak pernah ada bagi
Orpheus. Charon menulikan telinganya terhadap permohonan Orpheus.
Akhirnya
karena lelah meratap dan memohon Orpheus kembali ke tempatnya
kehilangan Eurydice untuk kedua kalinya. Sungguh kehilangan yang sekali
ini lebih berat dirasanya daripada kehilangan yang pertama. Dan sungguh
ironis! Ditemukannya liranya menggeletak hanya dua langkah dari tempat
yang disinari matahari.
Orpheus kembali ke dunianya. Hari-harinya
dijalaninya dengan murung dan penuh duka. Tak ada lagi yang mampu
mengembalikan gairah hidupnya. Bahkan bayangan Eurydice pun tak mampu
membuatnya bersemangat kembali, karena dia tahu betapa sia-sia
mengharapkan kemurahan dewata agar Eurydice kembali ke sisinya.
Dia
memutuskan untuk tidak kembali ke Thrace melainkan mengembara membawa
luka di hatinya. Seolah ingin disuarakannya kepedihan hatinya dan
ketidakadilan dewata terhadapnya ke seluruh pelosok dunia. Dan
dawai-dawai liranya pun tak pernah lagi mengalunkan lagu suka.
Suatu
ketika tibalah Orpheus di suatu desa yang sedang merayakan festival
untuk menghormati Bacchus, dewa anggur dan keriangan. Para wanita yang
hadir dalam festival tersebut membujuk Orpheus agar memainkan liranya
untuk mengiringi hymne suci bagi Bacchus. Dalam dukanya Orpheus menolak.
Rupanya penolakan tersebut menimbulkan amarah bagi wanita-wanita pemuja
Bacchus. Dalam keadaan mabuk oleh anggur yang mereka minum dalam
festival, mereka menyerang Orpheus dengan golok dan sabit dan
mencabik-cabiknya beramai-ramai. Terlalu berat dibebani duka di hatinya
Orpheus tidak berusaha melawan.
Ketika sadar para wanita tersebut
terkejut dengan apa yang telah mereka perbuat. Namun terlambat! Orpheus
telah mereka bunuh. Kepalanya hanyut dibawa arus Sungai Hebrus sementara
bibirnya masih terus menggumamkan sebuah nama. Nama yang hidup abadi
dalam hatinya, Eurydice. Para peri yang menemukan kepala Orpheus
kemudian menguburkannya di Libethra di lereng Olympus Di sana
burung-burung penyanyi berkicau lebih merdu daripada burung-burung di
tempat lain sejak saat itu.
Jiwa Orpheus yang meninggalkan tubuhnya
meluncur ke kegelapan Hades. Di sana jiwanya bertemu dan bersatu dengan
jiwa Eurydice. Meskipun kegembiraan dan keceriaan tak dikenal di Hades
yang suram, namun jiwa Orpheus berbahagia dengan jiwa Eurydice, sebab
cinta mereka telah mengalahkan maut itu sendiri.
Dan lira Orpheus?
Lira tersebut terbawa ombak sampai ke Pulau Lesbos dan terdampar di
pantainya.
Berhari-hari bahkan berbulan-bulan alat musik itu tergeletak
di sana. Ketika debur ombak terus menyentuh dawai-dawainya dengan
berirama, terciptalah melodi-melodi indah yang mengalun sampai ke
telinga Apollo yang lalu memungut lira putranya tersebut dan
meletakkannya di angkasa, di antara bintang-bintang, menjadi rasi
bintang Lira.