Selasa, 29 Mei 2012

Unforgettable Day - short story

okay, kali ini aku mau nge post tentang pengalaman aku saat SMP, this is original made by me, dan sebaiknya jangan ditiru ya ;)

Jam weker biruku yang terletak di meja belajar telah menunjukkan pukul 7 tepat, aku teringat akan janji yang telah kubuat kemarin bersama teman-temanku. Ya, aku memang masih duduk di salah satu sekolah menengah pertama negeri di kotaku, seperti biasa anak sekolah pasti banyak tugas. Kami akan membuat sebuah film pendek sebagai tugas Bahasa Inggris.

Handphone nokia N97 hitamku berdering melantunkan lagu summertime dari Cody Simpson penyanyi idolaku, di layar kaca handphoneku itu tertera nama Wilda, salah seorang sahabatku. Ia menanyakan kapan aku akan ke rumahnya, dan aku pun mengatakan aku sudah siap untuk berangkat.

Menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, aku pun tiba di rumahnya, sepertinya akulah yang paling terakhir sampai karena sudah ada Alfi, Hardi, Ridha, Radhi, Richard, Ulfah, Dinda, Nurul, dan Wilda pastinya. Ya memang setiap kelompok terdiri atas 10 orang, cukup banyak ya.

Hari ini, matahari bersinar sangat terik, langit biru, dan awan putih sangat mendukung tujuan kami untuk berkumpul yaitu meninjau lokasi. Menggunakan mobil yaris merah dan dua motor kami pun siap berangkat.
Pukul 03.05 kami telah selesai, semuanya sudah sangat lelah tapi jam masih menunjukkan tengah hari yang berarti terlalu cepat untuk kembali ke rumah. Tiba-tiba terbersit pikiran gila di salah seorang sahabatku bernama Dinda yang mengatakan, “kenapa kita tidak pergi ke Bantimurung saja ini masih terlalu siang?” serentak seluruh manusia-manusia yang berada di mobil mengiyakannya, segera ku hubungi teman yang mengendarai motor yaitu si kembar yang tak terpisahkan Ridha dan Radhi dan satunya lagi Richard, tapi aku lebih sering memanggilnya Caca dan yah mereka bertiga juga setuju dengan ide gila itu. Dengan bermodal uang pas-pas an kami pun berangkat mengarungi luasnya samudera eh maksudnya jalan raya.

Perjalanan ke Bantimurung memang memakan waktu yang cukup lama dan kami mengambil jalur jalan tol agar dapat menghemat waktu tapi sayangnya motor tidak boleh menggunakan jalur tol jadi mereka mengambil jalur lain. Selama di tol yang membawa mobil adalah Alfi, karena sedari tadi yang membawa adalah Hardi, sepertinya ia sudak kecapekan. Walaupun Alfi memang membawa mobil tidak semulus Hardi tapi kami tetap seru-seruan di dalam mobil.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kami pun sudah sampai, patung monyet dan kupu-kupu raksasa telah menyambut kami. Jam telah menunjukkan pukul 04.15 yang berarti kita tidak boleh lama-lama di sini karena takut kalau sampai di rumah terlalu malam. Kami berjalan-jalan di sekitar air terjun dan juga mengambil beberapa foto menggunakan kamera SLR yang memang di bawa Hardi dari tadi. Sebelum pulang aku ingin membeli beberapa souvenir tapi harganya yang selangit membuatku mengurungkan niat itu dalam-dalam. Karena semuanya terlihat seperti orang yang tidak pernah makan selama 3 hari, kami pun patungan untuk membeli jangung bakar dan memakannya di perjalanan pulang. “Okay ini sudah hampir 04.30” Ridha mengingatkan. Kami lalu memutuskan untuk pulang ke rumah.

Perjalanan pulang tidak semulus perjalanan saat kami berangkat, hujan gerimis mulai menyerbu, kami yang berada di dalam mobil memang tidak apa-apa tapi bagaimana dengan teman kami yang mengendarai motor. Jalanan menjadi licin, Hardi membawa mobil dengan hati-hati. Perasaanku menjadi tidak enak, kutanya Nurul ia juga mengatakan hal yang sama begitupun dengan Ulfah, entah apa yang akan terjadi, semoga saja semuanya baik-baik saja. 

Kurang lebih 5 menit kemudian Wilda menerima telpon bahwa Caca mengalami kecelakaan, ia terjatuh dari motor dan fatalnya jika ia terlempar sedikit lebih jauh lagi ia akan jatuh ke jurang, handphone miliknya terlempar ke tengah jalan dan sepertinya rusak, motornya juga mengalami sedikit gangguan. Untungnya saat itu tidak ada mobil atau truk yang melintas. Kalau ada entah apa yang akan terjadi. Kami yang berada di dalam mobil sangat kaget dengan kabar itu. Mereka memang berangkat duluan, dan tidak lama kami pun menemukan Caca yang telah dibantu untuk berdiri dan dibantu masuk ke dalam mobil karena tidak mungkin ia membawa motor, motornya di ambil alih oleh Alfi, mereka bertukar posisi, terdapat banyak luka di kaki, tangan dan jidatnya, darah tidak berhenti bercucuran, kami panik, kami tak tahu apa yang harus kami lakukan, kami hanya membersihkan darahnya menggunakan tissue seadanya karena ternyata Wilda tidak memiliki kotak P3K di dalam mobilnya.  Sepertinya kejadian ini merupakan sebuah peringatan atau bisa dibilang karma karena kami tidak meminta izin orang tua, kami pergi tanpa seorang pun yang mengetahui, dan  kami berjanji tidak akan melakukannya lagi.

Sejak kejadian itu hubungan persahabatan kami semakin akrab, semoga kenangan ini tak akan lekang oleh waktu.