Kamis, 06 September 2012

Kisah ALKYONE : Cinta sejati putri dewa angin

Aiolos, putra Hipotas, adalah dewa yang mengatur semua angin yang bertiup dari empat penjuru dunia. Nama-nama angin itu adalah Boreas (Angin Utara), Notos (Angin Selatan), Zephyros (Angin Barat) dan Euros (Angin Timur). Istana sang dewa pengatur angin yang megah berada di sebuah pulau yang bernama Pulau Aiolia, di lepas pantai Italia. Sekarang pulau berapi itu disebut dengan nama Pulau Stromboli.

Penguasa angin ini memiliki enam orang putra dan enam orang putri, salah satu putrinya yang cantik bernama Alkyone yang dinikahkan dengan Keyx, raja Trakhis. Sang raja adalah seorang pelaut tangguh dan gemar menangkap ikan di laut lepas. Hal ini membuat Alkyone kerap khawatir bila sesuatu yang buruk menimpa suaminya di laut, tetapi Keyks adalah pelaut yang pemberani dan berpengalaman. Dalam cuaca seburuk apapun, ia pasti akan pulang kembali ke Trakhis.  

Suatu hari, Alkyone mendapatkan firasat buruk yang lain dari biasanya. Ia memohon pada Keyx agar tidak berlayar hari itu. Keyx yang sangat percaya pada kemampuannya dalam mengarungi lautan tidak mengindahkan kata-kata istrinya dan tetap pergi berlayar. Air mata Alkyone yang meleleh di pipinya tidak cukup menghentikan kepercayaan diri Keyx yang terlalu berlebihan. Dan, harga yang harus dibayar Keyx untuk kebanggaan dirinya itu sangat besar.

Saat kapal Keyx telah berada di tengah-tengah laut, tiba-tiba cuaca yang cerah mendadak berubah menjadi gelap. Awan-awan hitam berdatangan menutupi matahari siang dan langit pun menjadi kelabu. Angin kencang bertiup, mengaduk-aduk isi lautan hingga berbuih dan mengombang-ambingkan semua yang berada di permukaannya. Hanya dalam beberapa detik, gelombang lautan bergulung naik hingga setinggi gunung dan menghancurkan perahu yang ditumpangi Keyx hingga berkeping-keping.

Begitu mendengar kabar itu, Alkyone berlari ke pantai dan mencari-cari tubuh suaminya di laut. Akhirnya di antara puing-puing kapal yang terseret ombak ke pantai Alkyone menemukan tubuh Keyx telah terbujur kaku. Dengan hati hancur, ia mendekap tubuh suaminya itu dan memberikan ciuman yang terakhir. Lalu Alkyone memanjat tebing yang menjulang tinggi di pantai dan melemparkan dirinya dari tebing ke laut di bawahnya.


Melihat takdir yang begitu kejam menimpa pasangan muda ini, para dewa jatuh iba. Kedua pasangan ini diubah oleh para dewa menjadi dua ekor burung air (Kingfisher) yang disebut Halcyone. Burung ini berpasang-pasangan seumur hidup dan bila kematian merenggut nyawa si jantan, maka betinanya akan mencoba mengakhiri hidupnya, persis seperti yang dilakukan Alkyone.

Burung ini bertelur hanya di musim dingin, tetapi telur-telur itu akan menetas hanya saat matahari bersinar dan angin dingin tak bertiup. Saat-saat seperti itu disebut dengan Halcyone Days, yang berlangsung tujuh hari sebelum dan sesudah Winter Solstice (biasanya terjadi sekitar tgl 21 atau 22 Desember. Hari-hari Halcyon dimulai dari tanggal 14 atau 15 Desember dan berlangsung selama 14 hari. 

Sebagian orang juga percaya burung ini bisa mengendalikan arah angin dan menenangkan laut agar mereka dapat menetaskan telur-telur mereka yang digantung di ranting-ranting pohon.  Konon Aiolos mengendalikan angin di tengah musim dingin untuk membiarkan putrinya dan keturunannya dapat memelihara anak-anak mereka dengan selamat. 

source : prayudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar