"Di antara Indonesia dan Australia"
Judul buku : Satu Pertanyaan Dari Selatan: Kumpulan Cerpen
Berlatar Australia
Pengarang : Putu Liza dkk.
Penerbit : Bentang
Tahun : 2006
Tebal : xxvi + 242 halaman
Harga :
Rp19.500
Satu
Pertanyaan Dari Selatan merupakan sebuah buku kumpulan cerpen yang berlatar
Australia. Buku ini merupakan hasil sumbangan para penulis naskah terbaik dalam
lomba penulisan cerita pendek yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar
Indonesia-Australia The Australian National University periode 2004-2005.
Menariknya penulis cerpen-cerpen ini bukanlah dari latar belakang sastrawan,
melainkan mahasiswa doktoral, pascasarjana, sosiolog, politikus, pengajar,
penerjemah, bahkan ibu rumah tangga yang ternyata juga memiliki daya
satra yang tinggi.
Ridwan Arifin yang mengisahkan
tentang sisi gelap kota Melbourne dalam cerpennya yang berjudul “Reality Shows”
memaparkan secara langsung bagaimana aktivitas keseharian orang-orang yang ada
di Australia dan juga kegiatan ekonominya yang sangat sibuk. Mick salah satu tokoh
dalam cerita ini sangat geram pada para imigran, khususnya dari Asia karena
mereka rela bekerja siang dan malam hanya untuk upah yang sangat rendah.
“Antheia” oleh Putu Liza yang
berpesan bahwa tidaklah tidak mungkin untuk dapat beradaptasi dan bertahan
hidup di beberapa tempat. Elang, si tokoh utama, adalah seorang pria muda dari
Bali yang bisa beradaptasi dengan musim dingin Amerika ataupun Pulau Lembata.
Tema lain pada kisah ini ialah bagaimana benang asmara Elang dan Antheia
terajut.
“De’Nong” oleh Ana A. Hermawan
bercerita tentang perbedaan budaya. De’Nong, seorang pembatu rumah tangga dari
Jawa, dan John, seorang professor sosiologi di Universitas Flinders
berkebangsaan Australia saling menaruh hati. Keduanya mencoba untuk beradaptasi
dengan perbedaan budaya mereka masing-masing. Pada akhirnya mereka menemukan
titik terangnya dan membentuk sebuah keluarga bahagia.
“Saya, Tapi, dan Dia” oleh Ariane
J. Utomo yang mengkisahkan tentang kegundahan hati seorang gadis yang telah
menghabiskan waktunya selama 10 tahun di Canberra hanya untuk menarik perhatian
seorang pria idaman di kampusnya tapi harus berakhir tragis karena pria itu
telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak terduga.
Kisah “Jembatan” oleh Farid Arif
Wibowo berkisah tentang usaha pembangunan sebuah jembatan dari Lamongan ke
Darwin. Lamongan yang dikenal luas sebagai sarang teroris pasca Bom Bali I akan
dihubungkan dengan sebuah jembatan ke kota Darwin di Australia. Penulis
menunjukkan perhatiannya terhadap masalah ini dengan konteks hubungan kerjasama
antara Indonesia dan Australia.
Kisah “Seratus Senyum” oleh
Kurniawati Hastuti Dewi, mengangkat garis besar cinta tidak berubah dengan
tidak adanya seseorang yang dicintai itu di samping kita. Tiffany percaya bahwa
Bakir, suaminya, bukanlah seorang teroris. Meski nyatanya Bakir dipenjara oleh
polisi Australia. Hingga buah hatinya bertanya, “Ma, kapan Salwa temukan
seratus senyum bersama ayah?”
Cerita selanjutnya “Perjalanan
Malam” oleh Ira Tanca yang memberikan renungan-renungan filososis. Tokoh Gere,
yang pada cerpen ini sangat sering berjalan kaki seorang diri di malam hari dan
sering melontarkan pertanyaan pada dirinya sendiri tentang apa tujuan dari
semua yang dilakukannya dalam hidup ini.
Cerpen
lainnya berjudul “Senja Kelabu”, yang dikarang oleh Joice Ansory ini
mengisahkan tentang Ratna dan keluarganya yang harus hijrah ke Australia karena
suaminya yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Canberra.
Bagiamana ia dan keluarganya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga
pertemuannya dengan pasangan pensiunan Willy dan Martha yang akhirnya mengubah
arah pandangnya pada kehidupan.
Cerpen
Farid Arif Wibowo yang menjadi judul antologi ini “Satu Pertanyaan Dari Selatan”
berkisah tentang beranikah Sarip menerima cinta Joanne ketika ia mengingat
pesan Pak Dhe-nya untuk mencari istri yang tidak neko-neko, ketika Sarip menyadari betapa ia telah terdidik untuk
membenci kemewahan, mencurigai kesempurnaan yang terwujud dalam bentuk Kota
Canberra dan diri Joanne.
Ada juga “Buku Harian Nara” oleh
Arya Sugiarto di mana setiap orang memiliki prinsip yang sama yaitu adanya
kesetaraan. Cerita ini menggambarkan bagaimana adanya kebebasan atas siswa
siswi yang ingin menyampaikan aspirasinya pada para penegak hukum. Melalui tulisan Nara pada buku hariannya, ia
juga bercerita tentang dirinya yang ditinggal kekasihnya yang tak sanggup untuk
memiliki hubungan jarak jauh. Lalu kemudian Nara jatuh hati pada dosen
pembimbingnya, sebelum akhirnya kecewa karena si dosen ternyata adalah seorang
gay.
Di samping itu tokoh aku dalam
“Mungkin Karena Kaum Marhaen Masih Lapar” oleh Firman Noor, yang merasa jengah
bila mengingat kelakuan bangsanya, Indonesia. Menaiki bis secara sembarangan,
padahal sudah ada halte-halte yang telah disediakan oleh pemerintah. Belum lagi
tentang disiplin waktu. Berbeda dengan Australia, “Sorry mate.. the rule is the
rule,” kata sopir bus di sana (hal.157).
Cerita
yang berjudul “Tole” oleh Shinta Benilda ini berkisah tentang mahasiswa asal
Indonesia yang berlatar dari masyarakat bawah yang memasuki lingkungan yang
sangat asing baginya, namun sayang sekali di puncak kesuksesannya ia harus mati
mengenaskan di tanah airnya sendiri.
Cerita “Kisah Semusim” oleh
Rahmatani Kasri yang menkontraskan perbedaan iklim di luar negeri dan budaya
Indonesia di mata orang Australia. Raras, sang tokoh utama yang hampir
diperkosa oleh David Owen- seorang mahasiswa S3 di Australia National
University- yang ditaksirnya di sana, tiba-tiba saja seorang laki-laki
jauh-jauh datang dari Indonesia ke Australia hanya untuk mengatakan, “Would you marry me, Larasati?”.
“Ternyata Pesta Belum Bubar” oleh
Agung Fatwanto berlatar di Canberra dengan penggambaran gedung-gedung pencakar
langit, lampu jalan, dan program televisi. Si tokoh utama menghadapi banyak
masalah, terutama dalam pencarian jati diri di kota modern yang
memenjarakannya. Tokoh Aku mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa orang-orang
selalu menggunakan topeng, baik itu Australia maupun Indonesia, ia ingin
berlari dari semuanya. Sayangnya pesta (topeng) itu belum bubar. Dan tokoh Aku
sadar akan itu.
Dan yang terakhir “Om Heli” oleh
Dwi Elyono, yang menjadikan Australia sebagai pencerminan atas gambaran tentang
kebudayaan Indonesia dan kebiasaannya. Firman mengamati betapa disiplinnya lalu
lintas di Australia, sedangkan Dwi lebih memperhatikan tentang lingkungan di
Australia itu sendiri.
Secara umum, kumpulan cerpen di
buku ini menyajikan tema yang sangat menarik. Alur yang digunakan pada
cerpen-cerpen ini ialah alur maju. Kebanyakan para penulis yang notabenenya
memang bukan dari kalangan sastrawan ini telah mengeksekusi ceritanya dengan
baik, tapi ada beberapa yang terkesan terburu-buru sehingga mungkin beberapa
pembaca lain sulit untuk memahaminya.
Buku
kumpulan cerpen ini memang mengambil latar Australia yang berpusat pada
kota-kota besar yaitu Canberra, Melbourne, Sydney dan Queensland. Sebagian besar dari kumpulan cerpen ini
menggunakan sudut pandang orang pertama. Penokohannya yaitu si Elang, si
Tifffany, Gere, Sarip, Ratna, Nara, Tole, Raras, Om Heli dan sisanya adalah
tokoh Aku. Gaya bahasa yang digunakan kebanyakan penulis ini ialah
personifikasi dan alegori.
Kelebihan
buku ini yaitu terdapat pada ceritanya yang spontan, jelas dan sederhana namun
cukup menarik untuk dibaca, apalagi banyak terselip kata-kata dalam bahasa
inggris. Buku ini juga menggambarkan tentang orang-orang Indonesia dari
berbagai latar belakang sosial. Gambaran alam tentang Australia juga dilukiskan
dengan sangat jelas oleh para penulis.
Kekurangan
buku ini yaitu terletak pada pemilihan sampul buku. Pemilihan sampulnya memang
tidak mendukung tema cerita. Seandainya desain sampulnya lebih menarik dan
lebih sesuai dengan tema cerita, tentunya akan menarik lebih banyak pembaca
lagi.
Buku
ini sangat tepat untuk dijadikan bahan bacaan bagi mereka yang ingin lebih
mengenal Australia dan budayanya, serta dapat menjadi sarana untuk meningkatkan
empati antara kedua bangsa, Indonesia dan Australia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar