Kamis, 21 November 2013

Resensi Buku Kumpulan Cerpen: Satu Pertanyaan Dari Selatan



"Di antara Indonesia dan Australia"

Judul buku     :  Satu Pertanyaan Dari Selatan: Kumpulan Cerpen
   Berlatar Australia
Pengarang      :  Putu Liza dkk.
Penerbit         :  Bentang
Tahun             :  2006
Tebal               :  xxvi + 242 halaman
Harga              :  Rp19.500



Satu Pertanyaan Dari Selatan merupakan sebuah buku kumpulan cerpen yang berlatar Australia. Buku ini merupakan hasil sumbangan para penulis naskah terbaik dalam lomba penulisan cerita pendek yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia-Australia The Australian National University periode 2004-2005. Menariknya penulis cerpen-cerpen ini bukanlah dari latar belakang sastrawan, melainkan mahasiswa doktoral, pascasarjana, sosiolog, politikus, pengajar, penerjemah, bahkan ibu rumah tangga yang ternyata  juga memiliki daya satra yang tinggi.

Ridwan Arifin yang mengisahkan tentang sisi gelap kota Melbourne dalam cerpennya yang berjudul “Reality Shows” memaparkan secara langsung bagaimana aktivitas keseharian orang-orang yang ada di Australia dan juga kegiatan ekonominya yang sangat sibuk. Mick salah satu tokoh dalam cerita ini sangat geram pada para imigran, khususnya dari Asia karena mereka rela bekerja siang dan malam hanya untuk upah yang sangat rendah.

“Antheia” oleh Putu Liza yang berpesan bahwa tidaklah tidak mungkin untuk dapat beradaptasi dan bertahan hidup di beberapa tempat. Elang, si tokoh utama, adalah seorang pria muda dari Bali yang bisa beradaptasi dengan musim dingin Amerika ataupun Pulau Lembata. Tema lain pada kisah ini ialah bagaimana benang asmara Elang dan Antheia terajut.

“De’Nong” oleh Ana A. Hermawan bercerita tentang perbedaan budaya. De’Nong, seorang pembatu rumah tangga dari Jawa, dan John, seorang professor sosiologi di Universitas Flinders berkebangsaan Australia saling menaruh hati. Keduanya mencoba untuk beradaptasi dengan perbedaan budaya mereka masing-masing. Pada akhirnya mereka menemukan titik terangnya dan membentuk sebuah keluarga bahagia.

“Saya, Tapi, dan Dia” oleh Ariane J. Utomo yang mengkisahkan tentang kegundahan hati seorang gadis yang telah menghabiskan waktunya selama 10 tahun di Canberra hanya untuk menarik perhatian seorang pria idaman di kampusnya tapi harus berakhir tragis karena pria itu telah mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak terduga.

Kisah “Jembatan” oleh Farid Arif Wibowo berkisah tentang usaha pembangunan sebuah jembatan dari Lamongan ke Darwin. Lamongan yang dikenal luas sebagai sarang teroris pasca Bom Bali I akan dihubungkan dengan sebuah jembatan ke kota Darwin di Australia. Penulis menunjukkan perhatiannya terhadap masalah ini dengan konteks hubungan kerjasama antara Indonesia dan Australia.

Kisah “Seratus Senyum” oleh Kurniawati Hastuti Dewi, mengangkat garis besar cinta tidak berubah dengan tidak adanya seseorang yang dicintai itu di samping kita. Tiffany percaya bahwa Bakir, suaminya, bukanlah seorang teroris. Meski nyatanya Bakir dipenjara oleh polisi Australia. Hingga buah hatinya bertanya, “Ma, kapan Salwa temukan seratus senyum bersama ayah?”

Cerita selanjutnya “Perjalanan Malam” oleh Ira Tanca yang memberikan renungan-renungan filososis. Tokoh Gere, yang pada cerpen ini sangat sering berjalan kaki seorang diri di malam hari dan sering melontarkan pertanyaan pada dirinya sendiri tentang apa tujuan dari semua yang dilakukannya dalam hidup ini.

Cerpen lainnya berjudul “Senja Kelabu”, yang dikarang oleh Joice Ansory ini mengisahkan tentang Ratna dan keluarganya yang harus hijrah ke Australia karena suaminya yang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di Canberra. Bagiamana ia dan keluarganya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga pertemuannya dengan pasangan pensiunan Willy dan Martha yang akhirnya mengubah arah pandangnya pada kehidupan.

Cerpen Farid Arif Wibowo yang menjadi judul antologi ini “Satu Pertanyaan Dari Selatan” berkisah tentang beranikah Sarip menerima cinta Joanne ketika ia mengingat pesan Pak Dhe-nya untuk mencari istri yang tidak neko-neko, ketika Sarip menyadari betapa ia telah terdidik untuk membenci kemewahan, mencurigai kesempurnaan yang terwujud dalam bentuk Kota Canberra dan diri Joanne.

Ada juga “Buku Harian Nara” oleh Arya Sugiarto di mana setiap orang memiliki prinsip yang sama yaitu adanya kesetaraan. Cerita ini menggambarkan bagaimana adanya kebebasan atas siswa siswi yang ingin menyampaikan aspirasinya pada para penegak hukum.  Melalui tulisan Nara pada buku hariannya, ia juga bercerita tentang dirinya yang ditinggal kekasihnya yang tak sanggup untuk memiliki hubungan jarak jauh. Lalu kemudian Nara jatuh hati pada dosen pembimbingnya, sebelum akhirnya kecewa karena si dosen ternyata adalah seorang gay.

Di samping itu tokoh aku dalam “Mungkin Karena Kaum Marhaen Masih Lapar” oleh Firman Noor, yang merasa jengah bila mengingat kelakuan bangsanya, Indonesia. Menaiki bis secara sembarangan, padahal sudah ada halte-halte yang telah disediakan oleh pemerintah. Belum lagi tentang disiplin waktu. Berbeda dengan Australia, “Sorry mate.. the rule is the rule,” kata sopir bus di sana (hal.157).

Cerita yang berjudul “Tole” oleh Shinta Benilda ini berkisah tentang mahasiswa asal Indonesia yang berlatar dari masyarakat bawah yang memasuki lingkungan yang sangat asing baginya, namun sayang sekali di puncak kesuksesannya ia harus mati mengenaskan di tanah airnya sendiri.

Cerita “Kisah Semusim” oleh Rahmatani Kasri yang menkontraskan perbedaan iklim di luar negeri dan budaya Indonesia di mata orang Australia. Raras, sang tokoh utama yang hampir diperkosa oleh David Owen- seorang mahasiswa S3 di Australia National University- yang ditaksirnya di sana, tiba-tiba saja seorang laki-laki jauh-jauh datang dari Indonesia ke Australia hanya untuk mengatakan, “Would you marry me, Larasati?”.

“Ternyata Pesta Belum Bubar” oleh Agung Fatwanto berlatar di Canberra dengan penggambaran gedung-gedung pencakar langit, lampu jalan, dan program televisi. Si tokoh utama menghadapi banyak masalah, terutama dalam pencarian jati diri di kota modern yang memenjarakannya. Tokoh Aku mempertanyakan dirinya sendiri. Mengapa orang-orang selalu menggunakan topeng, baik itu Australia maupun Indonesia, ia ingin berlari dari semuanya. Sayangnya pesta (topeng) itu belum bubar. Dan tokoh Aku sadar akan itu.                           

Dan yang terakhir “Om Heli” oleh Dwi Elyono, yang menjadikan Australia sebagai pencerminan atas gambaran tentang kebudayaan Indonesia dan kebiasaannya. Firman mengamati betapa disiplinnya lalu lintas di Australia, sedangkan Dwi lebih memperhatikan tentang lingkungan di Australia itu sendiri.

Secara umum, kumpulan cerpen di buku ini menyajikan tema yang sangat menarik. Alur yang digunakan pada cerpen-cerpen ini ialah alur maju. Kebanyakan para penulis yang notabenenya memang bukan dari kalangan sastrawan ini telah mengeksekusi ceritanya dengan baik, tapi ada beberapa yang terkesan terburu-buru sehingga mungkin beberapa pembaca lain sulit untuk memahaminya.

Buku kumpulan cerpen ini memang mengambil latar Australia yang berpusat pada kota-kota besar yaitu Canberra, Melbourne, Sydney dan Queensland.  Sebagian besar dari kumpulan cerpen ini menggunakan sudut pandang orang pertama. Penokohannya yaitu si Elang, si Tifffany, Gere, Sarip, Ratna, Nara, Tole, Raras, Om Heli dan sisanya adalah tokoh Aku. Gaya bahasa yang digunakan kebanyakan penulis ini ialah personifikasi dan alegori.

Kelebihan buku ini yaitu terdapat pada ceritanya yang spontan, jelas dan sederhana namun cukup menarik untuk dibaca, apalagi banyak terselip kata-kata dalam bahasa inggris. Buku ini juga menggambarkan tentang orang-orang Indonesia dari berbagai latar belakang sosial. Gambaran alam tentang Australia juga dilukiskan dengan sangat jelas oleh para penulis.

Kekurangan buku ini yaitu terletak pada pemilihan sampul buku. Pemilihan sampulnya memang tidak mendukung tema cerita. Seandainya desain sampulnya lebih menarik dan lebih sesuai dengan tema cerita, tentunya akan menarik lebih banyak pembaca lagi.

Buku ini sangat tepat untuk dijadikan bahan bacaan bagi mereka yang ingin lebih mengenal Australia dan budayanya, serta dapat menjadi sarana untuk meningkatkan empati antara kedua bangsa, Indonesia dan Australia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar