Tiga
orang bersaudara, Kuatik, Marahus dan Sahaja berkelana mencari bahagia.
Kuatik si sulung, berpikir bahwa bahagia bisa didapat dengan memiliki
kekuatan yang luar biasa hingga bisa menguasai dunia. Marahus si tengah,
berpendapat bahwa kebahagiaan bisa diperoleh jika manusia mampu
meluapkan kemarahannya. Sementara, Sahaja si bungsu merasa bahwa
kebahagiaan akan datang jika hati manusia diliputi ketenangan dan rasa
syukur.
Ketiganya
sampai di sebuah hutan yang dihuni oleh Dewa Penguasa Kehidupan. Mereka
meminta kebahagiaan pada Sang Dewa sesuai dengan keinginan mereka.
“Kuatik,
kuberi kau tongkat penguasa, Marahus, terimaklah ramuabn kemarahan dan
Sahaja, sebuah jubah kuberikan untukmu”, ucap Dewa Penguasa Kehidupan.
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, ketiganya berpisah.
Kuatik
dengan tongkat kekuasaannya mendapatkan apa yang dia mau, tetapi
tongkatnya menjadi incaran semua penguasda, akhirnya Kuatik merasa tidak
bahagia dengan kehidupannya yang tidak aman.
Marahus
dengan ramuannyamenjadi manusia yang paliung ditakuti dan mampu
menaklukkan banyak musuh, tetapi akhirnya Marahus merasa kesepian karena
tidak ada seorang pun yang ingin berteman dengannya. Marahus tidak
bahagia.
Sahaja
yang rendah hati dengan jubahnya, senantiasa bersyukur dan berbagi
terhadap sesame. Kehidupannya tenang dan tentram. Sahaja juga
dikelilingi oleh banyak sahabat dan juga keluarga. Hingga akhir
hayatnya, nama Sahaja dikenal sebagai orang yang baik hati.
source : Bobo Magazine
Tidak ada komentar:
Posting Komentar