Sore itu, kota Makassar tampak sangat mempesona. Ribuan gulungan ombak berkejar-kejaran dan memecah di bibir pantai. Hamparan kristal-kristal putih nan indah membentang luas. Seberkas cahaya kelabu terpantul dari kristal-kristal putih dan riak gelombang. Semilir angin nan sejuk sangat menyentuh hati, serta nyiur kelapa nan melambai-lambai. Seakan semuanya sedang berdzikir pada Sang Pencipta.
Pemanandangan matahari terbenam di pantai sungguh indah. Laut terbentang begitu luas hingga berakhir di sebuah garis horizontal dengan latar langit dan matahari yang berwarna kejingga-jinggaan. Matahari itu turun perlahan-lahan sehingga seolah-olah ia berusaha membagi sinarnya secara merata ke seluruh dunia.
Banyak kapal-kapal layar yang berlabuh di dermaga serta burung-burung camar yang lalu-lalang di langit sambil sesekali turun ke permukaan laut bila ada ikan kecil yang pantas untuk disantap, serta beberapa remaja laki-laki yang berselancar yang pamer di hadapan remaja perempuan.
Mereka memang berselancar seperti ahlinya, berenang di atas papan selancar sesekali, lalu mulai berselancar mencari-cari datangnya gulungan ombak besar, menerpanya dan seolah-olah telah ditaklukannya oleh mereka.
Terlihat pula banyak orang dewasa yang berjemur di pantai dan beberapa duduk-duduk di bawah perlindungan payung pantai dan anak-anak kecil yang bermain istana pasir ataupun bermain-main dengan ombak-ombak kecil di pinggiran pantai.
Malam pun tiba. Sang surya kembali dalam peraduannya, namun langit tampak sangat cerah dengan dihiasi sinar rembulan yang merekah dan hamparan bintang yang indah menghiasi pesona malam di pantai. Dari dalam kamarku aku memandang lurus ke arah pantai yang berjarak tiga meter dari rumahku.
Nampak seorang nelayan melepas tali perahunya dan langsung membawanya ke perairan untuk segera berlayar. Udara malam yang terasa dingin tidak mempengaruhinya nelayan tersebut membawa kapalnya hingga tengah lautan, hingga aku tidak dapat memperhatikan orang-orang yang ada di pantai.
Malam makin beranjak, gulita menyelimutinya dengan tersenyum nelayan itu menuju laut. Menyambangi sesuatu yang selama ini mampu menguatkan dirinya dan memberinya energi bagi kehampaan takdir yang guratnya lebih kuat dari deburan ombak dan hamparan laut sekalipun. Ia masuk ke dalam ombak. Menyatu dengan laut yang selama ini menjadi nafasnya. Ia berangkat menyongsong kehidupan dengan perahunya.
Nelayan itu ingin kembali pada masal kehidupannya dengan tenang, dengan damai. Ingin menyongsong dengan senyum. Nelayan itu melemparkan tubuhnya keatas perahunya lalu menjauhi ombak yang mulai mengganas. Satu persatu batu karang itu dilaluinya.
Di sana keadaannya sam seperti kemarin malam, begitu tenang namun segar. Sang nelayan berbaring di atas perahu kecil itu, memandangi langit biru yang begitu luas dengan awan-awan putih menggumpal yang menghiasinya. Malam begitu dingin, sinar bulan menerobos lubang-lubang yang terbentuk di sela-sela perahunya.
Malam pun sirna. Cahaya dunia telah kembali menghangatkan kota Makassar yang pada tengah malam diguyur hujan. Tampak sisa-sisa hujan yang membasahi jalan, perpohonan, dan atap rumah. Kicauan burung nan merdu menyambut datangnya pagi yang cerah.
Tampak dari kejauhan para nelayan pulang dari penjelajahannya menangkap ikan. Ada pula para pemuda yang asyik berselancar. Ada pula para muda-mudi yang asyik bercengkrama sambil memadu kasih. Keceriaan dari beberapa keluarga yang membawa anak-anak mereka setelah bekerja seharian untuk menikmati pesona senja pantai.
Made by ME and my beloved MUM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar